MEMBUDAYAKAN
MEMBACA: PERINTAH PERTAMA ALLAH PADA RASULULLAH SAW
Sejenak kembali ke pelajaran sejarah islam kelas 3 MI, kita tahu bahwa
wahyu pertama yang diturunkan kepada Rasulullah adalah surah al-alaq ayat 1-5.
Rasulullah yang ketika itu berusia 40 tahun, berada di gua hira’, dan diliputi
rasa takut, mendengar wahyu yang disampaikan malaikat Jibril: “Bacalah dengan
menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan”. Dalam kata pertama, perintah iqra yang berbentuk fi’il ammar(kata perintah) menerangkan bahwa sebagai utusan Allah,
Rasul diperintah untuk membaca walaupun beliau saat itu dalam keadaan
ummi(tidak dapat membaca dan menulis).
Syaikh Muhammad Abduh dalam tafsir Juzu’ Ammanya menerangkan: “Namun,
ketika perintah itu disampaikan malaikat Jibril sebanyak tiga kali, tiga kali
pula beliau menjawab secara jujur bahwa beliau tidak pandai membaca, tiga kali
pula Jibril memeluknya keras-keras, untuk meyakinkan baginya bahwa sejak itu
kesanggupan membaca itu sudah ada padanya”.
Begitu pentingnya membaca, hingga perintah tersebut diturunkan pertama
kali kepada utusan-Nya. Itu merupakan bukti bahwa agama islam sangat peduli
dalam masalah membaca. Dan Allah akan memberi balasan bagi siapa saja yang mau
mengamalkan perintahnya. Lihatlah negara-negara yang masyarakatnya mengamalkan
perintah membaca, mereka mengalami kemajuan, baik dalam perkembangan ilmu
pengetahuan, teknologi, sumber daya manusia, dan lain sebagainya.
Kemudian, mengenai objek bacaan yang dimaksud dalam surah al-alaq adalah
bacaan yang bersifat umum. Karena tidak disebutkan secarah jelas didalamnya.
Objek bacaan dapat berupa Al-Qur’an, yang kalimat dan maknanya dapat
diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dapat juga berupa buku, yang sarat
akan informasi dan ilmu pengetahuan. Atau artikel, makalah, tulisan,
ensiklopedia yang lebih banyak manfaatnya bila dibandingkan dengan mudharatnya.
Selagi usia masih muda, tidak ada salahnya kita sebagai mahasiswa
mendedikasikan sebagian—atau lebih sedikit dari itu karena kesibukan—untuk
membaca apapun yang cocok untuk merampungkan studi di perguruan tinggi maupun
untuk mendukung “eksistensi” kita di masyarakat. Jangan merasa ciut bila sapaan
“si kutu buku” akan dialamatkan kepadamu. Toh, kita membaca bukan untuk menjadi
kutu!
Membudayakan membaca bisa dimulai kapan saja. Dalam situasi longgar
ataupun terpaksa karena tugas membuat makalah. Membaca itu untuk berburu ilmu.
Membaca untuk memperoleh ilmu. Jika sudah mendapat ilmu dari apa yang kita
baca, semoga Allah meninggikan kita beberapa derajat karena ilmu tersebut.
Aamiin.
Dari uraian di atas, dapat diambil simpulan sebagai berikut:
1.
Membaca adalah perintah pertama Allah
pada Rasul-Nya sesuai dengan surah al-alaq ayat pertama. Barang siapa
menjalankan perintah Allah maka akan menerima balasan di dunia dan akhirat.
2.
Membaca adalah kewajiban seorang muslim,
termasuk membudayakan dan mengembangkan adalah menjadi tanggungjawabnya.
3.
Membaca yang sesuai dengan yang kita
butuhkan akan membantu untuk meraih cita-cita di masa depan. Tentu saja dengan
tidak mengabaikan berusaha dan berdo’a.
Sumber: