Seserius itukah? Padahal kan, itu
cuma buat bercanda?
Nyatanya iya, seriuuus banget,
karena mereka yang mem-posting belum paham banget tentang konsep golongan darah
itu kayak gimana, mereka percaya dengan fakta yang ngaco, dan juga mengambil
istilah sains didalamnya.
Okey. Malah tambah bingung, kan. Sip.
Stay tune!
Apa
Itu Golongan Darah?
Pertama,
tentunya kita harus tau, apa sih golongan darah itu. Disini, saya akan
menjelaskan golongan darah sitem ABO seperti yang diilustrasikan dalam komik strip
itu. Mungkin penjelasan saya merembet ke transfusi darah, supaya kalian membayangkan
esensi dari golongan darah itu dan kaitannya atau ketidakterkaitannya ke
kepribadian manusia.
Sistem
golongan darah pertama kali ditemukan oleh Karl
Landsteiner pada tahun 1901. Ketika itu ada beberapa pasien yang melakukan
transfusi darah, sebagian ada yang berhasil, dan sebagian lagi meninggal ketika
transfusi dilakukan. Si Karl penasaran, jika semua darah manusia sama, mengapa
ada yang berhasil dan ada yang gagal? Hasil penelitiannya itu yang membuat Karl
mendapatkan Nobel pada 1930.
Golongan
darah adalah sistem pengelompokan darah berdasarkan ada atau tidaknya antigen
tertentu di permukaan eritrosit (sel darah merah). Ada 4 jenis antigen yang
ditemukan dalam eritrosit, untuk lebih jelasnya perhatikan gambar berikut:
Orang yang
permukaan eritrositnya ada antigen A, maka orang tersebut mempunyai golongan
darah A. Jika di permukaan eritrositnya ada antigen B, maka orang itu darahnya
masuk golongan B. Ada sebagian yang agak rakus, hehe, yaitu yang punya antigen
A dan B, maka orang itu berdarah AB. Dan yang terakhir ada yang polos, di
eritrositnya gak ada antigennya, dialah orang golongan darah O. Tapi, lebih
enak disebut type zero.
Nah,
terus antigen itu apa? Antigen adalah
zat (biasanya berupa protein atau polisakarida) yang memicu respon kekebalan
dalam tubuh (imun). Antigen A atau B sudah “alami” ada pada tubuh, yang
dikenali sebagai bagian dari tubuh kita. Tapi, kadang tubuh kita kemasukan
antigen asing dari lingkungan luar yang berpotensi menimbulkan kerusakan, bisa
melalui makanan, kulit, dan lain-lain. Ketika tubuh dimasuki oleh antigen,
tubuh akan meresponnya dengan membentuk antibodi (imunitas). Bedanya sama
antigen yang cuma bertugas merangsang
respon imun, antibodi berperan untuk melawan
antigen asing menggunakan hasil produksi sistem imun. Nah, penting banget buat
tubuh kita untuk mempunyai sebanyak mungkin antibodi.
TAPI,
tubuh TIDAK BISA punya antibodi yang sama dengan antigen pada permukaan
eritrosit. Misalnya, jika darah kalian B, maka gak boleh banget darah kalian
punya antibodi anti-B. Jika antigen B ketemuan sama antibodi anti-B, akan
terjadi aglutinasi (penggumpalan) yang akan berdampak kematian. Serem, ya!
Makanya,
pasien berdarah B (antigen B) tidak bisa mentransfusi darahnya ke pasien
berdarah A (antibodi anti-B). Kasihan kan si A nanti darahnya menggumpal terus
meninggal.
Nah,
itulah yang dijelaskan si Karl dan jadi dasar transfusi darah sampe sekarang.
Tinjauan
Ilmiah Terhadap Konsep Kepribadian Golongan Darah
Setelah
penjelasan diatas, kalian sudah faham kan? Sudah dong? Oke.
Dan dibagian
ini kita sama-sama meninjau dan menganalisis masalah komik unyu-unyu tadi,
hehe. Karena kalian sudah tau dasar dari golongan darah, mungkin sekarang
pertanyaannya jadi begini:
“Apakah benar antigen yang ada di permukaan eritrosit, yang
sebenarnya berfungsi pemicu respon imun tubuh bisa digunakan untuk menentukan
kepribadian seseorang?”
Mudah kok
jawabnya, kita sama-sama bisa menalar bahwa itu TIDAK BENAR! Antigen itu kaitannya dengan respon imun tubuh, bukan
dengan kepribadian seseorang. Coba kalian bayangkan, kepribadian seseorang itu
bersifat dinamis dan fleksibel, dapat berubah karena pengaruh pengalaman hidup
dan perubahan budaya. Sama sekali tidak terkait dengan golongan darah manusia
yang selalu tetap sejak lahir.
Jadi,
konsep penentuan kepribadian seseorang dengan golongan darah itu aliran sesat
menurut sains.
“Lalu, kenapa kadang-kadang sistem golongan darah itu benar?,
kok cocok dengan kepribadian saya?”
Itulah yang disebut kesalahan
logika (logical fallacy) dalam bentuk validasi subjektif/bias selektif. Validasi
subjektif/bias selektif adalah kecenderungan orang-orang menganggap sepotong
informasi menjadi benar jika memiliki makna pribadi atau penting bagi mereka.
Nah, seperti itu. Semoga Bermanfaat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar