Kamis, 19 Januari 2017

Bahan Kimia Buatan VS Bahan Alami

Bahan Kimia Buatan VS Bahan Alami


 
Pulang kuliah mampir ke minimarket deket kampus, lihat camilan keripik ketela jadi pengen beli, enak tuh buat temen ngerjain tugas. Eh, pas lagi makan di rumah bapak bilang gini:
“Anakku sayang, jangan makan camilan pabrik terus, banyak bahan kimianya loh, mending uangnya buat nge-print tugas kamu.”
dan pas lagi buka kulkas, refleks ambil botol coklat isinya cairan kental, dan di belakang ibu bilang gini:
“Itu obatnya kakak, dari bahan alami dan lebih sehat daripada obat-obat buatan pabrik.”

Anggapan yang berkembang di masyarakat adalah bahwa bahan kimia itu berbahaya. Orang-orang taunya bahan kimia itu seputar bahan pengawet, bahan pemanis buatan, pewarna makanan, hingga micin (monosodium glutamat/MSG). Alhasil, masyarakat kini lebih menghindari bahan kimia dan mencoba beralih ke bahan alami/herbal.
Tapi, benarkah semua bahan kimia itu pasti berbahaya? Apa sih bahan kimia itu? Apakah sebisa mungkin dihindari? Apa yang namanya bahan alami/herbal itu aman? Nah, tulisan kali ini saya akan sedikit banyak menjelaskan sisi lain bahan kimia dan bahan alami. Okey. Check it!

Apa sih bahan kimia itu?
Bahan kimia (chemicals) sebetulnya ada dimana-mana. Bukan di makanan atau obat-obatan saja. Semuanya, yang ada di lingkungan kita merupakan bahan kimia. Mulai dari yang masuk ke dalam tubuh kita sampai peralatan yang kita gunakan sehari-hari. Termasuk yang kita anggap alamiah, seperti sayuran, buah-buahan, segala jenis makanan yang kita makan, minuman yang kita minum, udara yang kita hirup, dan segala hal yang terbentuk dari proses perubahan materi adalah kimia.
Masih nggak percaya? Coba deh, kalian mau bikin telur ceplok, setelah semua bahan sudah siap, nyalakan kompor yang bahan bakarnya dari elpiji atau LPG (liquefied petroleum gas), propana (C3H8), dan butana (C4H10) cair. Siapin wajan anti lengket yang terbuat dari teflon atau politetrafloroetilena (PTEF, C2F4)n. tuang minyak goreng yang sehat dong, mengandung omega-9, asam oleat, dan isomernya asam elaidat (C18H34O2). Pecahin telur yang cangkangnya dari kalsium karbonat (CaCO3). Biar gurih dan gak hambar, tambahin garam (NaCl) atau sodium klorida. Yang mau tambah sedap dan ngasih mau micin alias MSG atau monosodium glutamat. Hayoo buanyak bahan kimia kan, di dapur kalian.
 


 




Nah, udah faham kan, kalo disekitar kalian buuuuanyak banget bahan kimia. Waduh, berarti serem, dong? Nggak kok. Jangan menganggap segala hal yang terkait dengan bahan kimia itu berbahaya bagi tubuh. Sebaliknya, jangan menganggap bahan alami itu lebih bagus bagi tubuh dan gak berbahaya. Konsep berpikir bahwa bahan kima itu bahaya dan bahan alami itu lebih sehat adalah suatu kekeliruan besar. Karena sebenarnya segala hal yang ada di sekitar kita adalah bahan kimia, dan bahan yang dianggap kimia itu bersumber dari alam juga. Intinya, bahan kimia berasal dari bahan alami, dan bahan yang kita anggap alami ya bahan kimia juga. Bingung? hehe.

Jadi, Bahan Kimia itu nggak Berbahaya?
Hop, tunggu dulu. Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan seperti itu. Bahan kimia juga bisa berbahaya lho, jiga kita tidak mengerti cara penggunaannya. Misalnya, propana di LPG itu kan mudah terbakar. Kalau sampai sambungan gas ke kompornya bocor, gas itu bisa keluar ke udara sekitar dengan cepat. Kalau ada percikan api sedikit saja dari korek api atau listrik bisa terjadi kebakaran.
Jadi, bahaya bahan kimia terletak pada pemahaman kita tentang bagaimana cara menggunakannya. Kalau kita tau sifat-sifat bahan kimia tersebut, batasan penggunaannya, dan berhati-hati, bahan kimia itu aman kok.
Ada satu contoh lagi, terkait dengan kafein. Bagi yang suka nongkrong atau hangout, simak baik-baik!


Kalian tau, sebenarnya kafein BISA berbahaya apabila dikonsumsi? kata kuncinya ada pada kata “bisa”. Untuk tubuh manusia, konsumsi kafein lebih dari 400 mg dapat menimbulkan efek, seperti gelisah, detak jantung tidak stabil, insomnia, dan lain-lain. Konsumsi kafein di atas 10 gram dapat menyebabkan kematian. Wih, serem ya!
Jika dalam segelas kopi mengandung 20 mg kafein, artinya kalian akan terkena gejala gangguan karena kafein kalau kalian minum sekitar 2 gelas dalam waktu singkat. Untuk menyebabkan kematian, seseorang perlu minum sekitar 50 gelas besar kopi secara cepat. Kafein secara umum aman, karena butuh dosis tinggi untuk menimbulkan kerugian pada kesehatan tubuuh manusia.
Dari contoh tersebut, kita dapat kesimpulan bahwa bahaya bahan kimia yang kita konsumsi itu ada dosisnya.

Kalau bahan kimia buatan manusia bahaya nggak?
Ada lagi kekeliruan masyarakat terhadap bahan kimia. Kalimat “konsumsilah produk-produk alami, pasti lebih baik dan lebih sehat” sudah populer di tengah masyarakat. Apa sih kelebihan bahan alami dari buatan?
Mungkin kalian pernah tau bahwa formalin, yang digunakan untuk mengawetkan makhluk hidup dan digunakan sebagai desinfektan pembunuh serangga, terdengar bahaya kan? Banget, dosis pembunuhnya sekitar 10 gram untuk orang dewasa. Tapi ternyata, formalin juga ada di buah pir. Kandungan formalin sekitar 0,06 gram/kg buah. Kalau dihitung, kita bisa mati keracunan formalin jika mengkonsumsi 166 kg buah pir. Banyak banget kan? Iya. Maka dari itu, buah pir aman dikonsumsi dalam skala normal kita sehari-hari.





















Dan, disini kita dapat satu lagi kesimpulan bahwa kealamian suatu makanan atau minuman gak menjamin bahwa semua yang terdapat di makanan atau minuman itu bagus dan aman.
Terus tentang obat herbal nih. Obat-obatan herbal umumnya masih diolah secara tradisional, yang berarrti tidak melalui proses standar kesehatan yang ditetapkan BPOM. Teknik pembuatan, peralatan seadanya, pengetahuan kimia, kebersihan proses, dan proses pembungkusan yang minim, justru membuat obat herbal tidak bisa terstandarisasi bagi kesehatan. Mungkin juga kan, obatnya terkontaminasi bakteri atau virus. Berbeda dengan obat-obatan kimia produksi pabrik yang yang racikannya melalui riset dan uji standar yang ketat. Proses pembuatannya dirancang agar steril.

Sekian info dari saya. Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar